Monday, 1 June 2009

Bikin Kebun Binatang Mini di Rumahnya


Minggu, 17 Mei 2009

Dunia anak-anak memang tak pernah lepas dari setidaknya tiga hal, yaitu gerak, gambar, dan suara.
Sama halnya kayak dongeng. Wuih, semua sobat Percil pasti suka ya sama dongeng, baik yang dibacakan orangtua, kakak, atau orang lain. Seru ya baca cerita dongeng anak-anak. Apalagi kalo dibarengi sama mimik wajah dan intonasi suara pendongeng yang selalu berganti-ganti sesuai dengan cerita.

Di Bandung, ada juga lho seseorang yang sangat dengan kehidupan anak-anak. Beliau suka banget membacakan dongeng untuk anak-anak. Terus, beliau juga suka menulis tentang cerita anak-anak, dan suka menggambar. Sobat Percil bisa memanggilnya Kak Andi. Nama panjangnya Andi Yudha Asfandiyar. Kita panggil Kak Andi untuk mendongeng tentang masa kecilnya yuuukk. Pasti seru, deh.

AKU lahir di Malang Jawa Timur, 21 Maret 1966. Orangtuaku adalah Bapak M. Ahyad Wongga, dan Ibu Hani Rosyida. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, dan kebetulan semuanya adalah anak lelaki.

Cerita masa kecilku, bingung deh mau dimulai dari mana. Soalnya, kayaknya hampir semua kenakalan pernah aku lakukan. Haha, namanya juga anak laki-laki. Tapi yang pasti, masa kecilku tak pernah jauh dari suasana alam. Aku suka banget sama binatang. Apalagi, binatang-binatang kecil dan melata. Aku suka ngumpulin binatang-binatang itu, lalu aku kasih tau teman-teman. Makanya, aku suka banget bikin kebun binatang mini di rumah. Bayarnya murah kok. Cuma pakai kertas aja, udah bisa masuk. Di sana, hewan yang di pamerkan ada kadal, kecoak, lintah, undur-undur, laba-laba, kalajengking, dan masih banyak lagi. Isinya hewan-hewan yang enggak ada di kebun binatang beneran. Kalau kebun binatang beneran kan isinya jerapah, gajah, singa, dan hewan-hewan besar, mana mungkin aku tangkap. Makanya, aku suka banget sama binatang. Jadi aku juga ingin, teman-temanku mengenali binatang.

Aku paling suka ular, bahkan banyak juga lho yang menjulukiku sebagai pawang ular profesional. Gara-garanya waktu itu, kelas III SD kalau enggak salah, aku pertama kali melihat ular sama orangtuaku. Aku takut, tapi ingin pegang. Untungnya dibolehkan, asal harus hati-hati. Karena keberhasilanku itu, aku jadi suka sama ular. Memperlakukan mereka kaya sahabat aja.

Kalau pulang sekolah, aku juga suka ajak teman-teman mencari kadal. Saking banyaknya, aku punya dua toples besar yang isinya kadal. Jangan bayangkan setiap toplesnya berisi 3-5 kadal aja ya sobat Percil. Soalnya, isinya jadi seperti es dawet.

Oh iya, waktu kelas IV SD, aku udah pernah masuk koran lho. Namanya koran “Suara Indonesia” yang terbit di Malang. Gara-garanya, waktu itu aku membuat mobil-mobilan yang dilengkapi dengan setir seperti mobil betulan. Zaman itu kan kan paling mobil-mobilannya yang cuma pakai papan, trus pake roda dan didorong aja. Nah kalo aku, udah kayak gokart lho, soalnya bikinnya juga dibantu sama bapak dan ibu. Wah, seru deh.

Kalau tentang dongeng, aku juga sejak kelas IV SD sudah mulai mendongeng ke anak-anak tetangga. Istilahnya, anak kecil yang ngajarin anak kecil. Soalnya, sejak kecil, rumahku itu boleh dimasuki siapa saja. Semua orang boleh bermain dirumah. Jadi, sejak kecil, aku sudah akrab dengan anak-anak.

Aku punya pesan buat sobat-sobat Percil nih. Yaitu, jangan pernah takut mencoba. Kegagalan itu enggak ada. Yang ada adalah berhasil mencoba. Jadi, selalu semangat untuk mencoba ya, sobat percil? (Endah Asih/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

0 comments: