Monday, 1 June 2009

KOMPETISI JADI BAGUS


Minggu, 19 April 2009

KEHADIRAN Komunitas Penulis Bacaan Anak (PBA) dinilai pemilik picupacuKREATIVITAS! Andi Yudha Asfandiyar, sebagai ruang kompetisi yang bagus. Bukan saja dari karya final (yang sudah jadi buku), tetapi juga dalam pencarian dan penggalian ide-ide kreatif penciptaan.

Ini penting, sebab selama ini, kata Andi, ruang penciptaan cenderung sendiri-sendiri. Penulis merasa asyik sendiri dan menganggap idenya paling bagus. Padahal, ketika dia bertemu penulis lain, lebih banyak ide-ide lain yang lebih bagus dari dia. “Dengan bergabung dengan komunitas, penulis dapat mengukur seberapa ‘gila’ sebenarnya dia,” ujar Andi yang dikenal sebagai orang yang banyak mendukung kreativitas.

Tidak cuma itu, penulis juga dapat berbagi informasi tentang penerbit. Apalagi, saat ini penerbit begitu banyak, tuntutannya pun berbeda-beda. Begitu juga dengan aturan main setiap penerbit. “Kalau penulis hanya mengurung diri dikamar tanpa bersosialisasi, akan sangat ketinggalan, “ujarnya.

Dengan penulis mengetahui “karakter” setiap penerbit, bukan saja akan memudahkan mengirimkan naskah. Akan tetapi, juga penulis itu sudah dapat memilih penerbit mana yang sesuai dengan karakter naskahnya. Penulis juga dapat segera mengetahui persoalan-persoalan yang kerap dihadapi secara individu.

Langkah ini, kata Andi, tentu saja lebih maju dibandingkan penulis yang hanya menulis untuk satu penerbit. Selain dari segi cerita dapat lebih variatif, finansial yang diterima pun berpeluang lebih banyak. “Pendek kata, mendorong penulis untuk lebih profesional dalam menulis. Tidak lagi berdasarkan mood, tetapi melihat keinginan penerbit, pasar, dll,” ujarnya.

Terlebih di Indonesia belum ada agen khusus untuk penulis. Penulis masih harus mencari penerbit yang cocok dengan karyanya, menawarkan, bernegoisasi, dan lain-lain. Sementara itu di luar negeri, penulis hanya mengerjakan proses kreativitas kekaryaan mereka, sedangkan untuk memasarkan karya sudah dipercayakannya kepada agen penulis.

“Artinya, PBA ini bisa menjembatani ketiadaan agen tersebut. Semoga saja ke depan, PBA ini bisa diarahkan menjadi keagenan penulis seperti itu,” ujarnya.

Andi tidak melihat kemungkinan terjadinya penyeragaman ide walaupun para penulis ini bergabung dalam komunitas yang sama. Pasalnya, kata dia, kemungkinan ide sama memang bisa terjadi. Akan tetapi, bagaimana ide itu diolah dan dikreasikan pastilah akan berbeda.

Malah Andi menganjurkan, bila seorang penulis ingin punya ide yang bagus, ia harus mengumpulkan ide sebanyak-banyaknya. Ide akan banyak bila orang tersebut bertemu dengan orang banyak. “coba saja, bandingkan bila Anda mencari ide di kamar seorang diri dengan bertemu banyak orang dipasar atau di jalan. Pastinya akan lebih banyak ide dengan kita bertemu dengan banyak orang di luar,” ujarnya lagi.

Untuk itu, Andi menilai sangat positif kehadiran PBA. Walaupun awalnya hanya sebatas anggota mailing list, tetapi pada saat bertemu jumlahnya sangat banyak. Ini menunjukkan, gairah kepenulisan bacaan anak, sangat luar biasa. Belum lagi didukung era kreativitas yang saat ini sedang berkibar.

Hanya, Andi menggarisbawahi, justru dengan fenomena seperti itu, banyak pekerjaan yang harus dilakukan PBA. Bukan saja terus menyuntik semangat anggotanya untuk terus berkarya dan melahirkan bacaan-bacaan yang memberi “gizi” pada perkembangan dan pertumbuhan anak, melainkan juga bagaimana PBA mampu memberikan perlindungan kepada anggotanya.

Setidaknya pada saat para penulis ini berhubungan dengan penerbit, ketentuan-ketentuan hukum dan hak cipta, serta hal lainnya. Penulis yang cerdas, kata Andi, adalah penulis yang mampu melakukan “pembacaan” terhadap tren yang sedang terjadi. Bukan saja tren kepenulisan, tetapi tren lain yang berhubungan dengan kepenulisan.

Jika hal itu masih sulit dilakukan secara individu, PBA inilah yang menurut Andi, harus mampu menjawabnya. “Memang berat, tetapi tidk ada kata yang tidak bisa. Semakin solid, insya Allah akan semakin mengayakan dan menguatkan para anggotanya. Semoga ya!” ujarnya lagi. (Eriyanti/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

0 comments: